Hanif berarti lurus. Demikianlah makna yang terlintas di benak sebagian orang.
Hanif berarti istiqamahberpegang lurus pada agama (Islam). Demikianlah definisi “hanif” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Adapun jika kita buka kamus Al-Mu’jam Al-Wasith, akan terperinci seperti ini:
( الحنيف ) المائل من شر إلى خير والصحيح الميل إلى الإسلام الثابت عليه … و ( الحنفاء ) فريق من العرب قبل الإسلام كانوا ينكرون الوثنية …. و من كان على دين إبراهيم عليه السلام في الجاهلية
Al-Hanif: Orang yang berpaling dari keburukan menuju kebaikan dan yang benar adalah kecenderungan menuju Islam–, nan teguh di atasnya. (Al-Mu’jam Al-Wasith, 1:439)
Al-Hunafa’: Sekelompok orang dari kalangan bangsa Arab sebelum datangnya Islam; mereka mengingkari penyembahan berhala …. Termasuk pula seseorang yang berada di atas agama Ibrahim pada masa jahiliah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, 1:439)
Definisi “hanif” diuraikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir surat An-Nahl, ayat 120–123,
والحنيف: المنحرف قصدًا عن الشرك إلى التوحيد؛ ولهذا قال: { وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ }
Al-Hanif: Orang yang secara sengaja memalingkan diri dari kesyirikan menuju tauhid. Demikian ini berdasarkan firman Allah (yang artinya), ‘Dan dia tidak termasuk orang musyrik.’” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:611)
Sedangkan Syekh As-Sa’di memberikan definisi sebagai berikut:
حَنِيفًا : مقبلا على الله بالمحبة، والإنابة والعبودية معرضا عمن سواه
Hanif: Menghadap Allah dengan rasa cinta, taubat, dan penghambaan serta berpaling dari selain-Nya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 450)
Yang hanif pada masa jahiliah
Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Dalam kurun waktu jahiliah, dialah yang mengingkari berbagai amalan kaum jahiliah. Dia jelaskan pula kebatilan agama yang dianut kaum Quraisy.
Perihal Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يبعث يوم القيامة أمة وحده
Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.” (Hadits hasan; riwayat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu; lihat Shahih As-Sirah An-Nabawiyyah, 1:94)
Mengapa Zaid bin ‘Amr bin Nufail disebut sebagai “umat” padahal dia hanya seorang diri?
Dalam tafsir surat Al-Baqarah ayat 213, Al-Imam Ath-Thabari menjelaskan, “Orang yang mengatakan perkataan semisal ini bagai memperkenankan penamaan individu tunggal dengan menggunakan nama jamak karena pada diri orang yang disebut ‘umat’ tersebut terkumpul segenap akhlak baik yang lazimnya ada pada sekelompok orang. Sebagaimana dikatakan, ‘Fulan adalah seorang umat’ yaitu dia menempati kedudukan sebuah umat.” (Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, 4:277)
Beliau menambahkan dalam bagian lain, “… Sebagaimana dalam hadis, ‘Zaid bin ‘Amr bin Nufail dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.’” (Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, 4:277)
Adapun dalam tafsir surat An-Nahl ayat 119—123, Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Dari Malik; dia berkata, ‘Ibnu Umar mengatakan, ‘(Yang dimaksud) umat adalah manusia yang mengetahui agamanya.”” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:611)
Selanjutnya, beliau juga mengutip perkataan Mujahid, “Mujahid juga berkata, ‘Ibrahim adalah seorang umat, yaitu yang beriman sendirian sedangkan tak ada seorang manusia pun yang beriman karena mereka semua kafir pada saat itu.’” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:611)
Ibnu Katsir juga mengutip sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (hadis ini juga terdapat dalam Al-Mustadrak, derajatnya shahih, pen.), “(Yang dimaksud) umat adalah manusia yang mengetahui kebaikan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:611)
Siapakah Zaid bin ‘Amr bin Nufail?
Siapakah sebenarnya Zaid bin ‘Amr bin Nufail? Berikut ini petikan nasabnya.
“Bab hadits tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Bab ini menerangkan hadits tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qarath bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr Al-‘Adawi; dia adalah orang tua Sa’id bin Zaid (salah satu di antara sepuluh orang yang mendapat berita gembira masuk surga). Dia juga merupakan anak dari paman ‘Umar bin Al-Khaththab: ‘Umar adalah anak Al-Khathhtab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza, sedangkan ‘Amr (yang merupakan ayah Zaid) adalah saudara Khaththab (ayah ‘Umar bin Al-Khathhtab). Dengan demikian, Zaid ini adalah anak dari paman ‘Umar bin Al-Khathhtab (ringkasnya: Zaid adalah sepupu ‘Umar, pen.).” (‘Umdatul Qari, 24:475)
“Zaid ini berpegang dengan tauhid, meninggalkan berhala-berhala, dan menjauhi kesyirikan. Meski begitu, dia wafat sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus (menjadi rasul). Sa’id bin Musayyib berkata, ‘Dia wafat kala Quraisy merombak bangunan Ka’bah, lima tahun sebelum turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” (‘Umdatul Qari, 24:475)
Keadaan Zaid disebutkan dalam sebuah hadits yang juga menyebutkan tempat kembali Waraqah bin Naufal, Khadijah binti Khuwailid, dan Abu Thalib.
عن جابر بن عبد الله : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن ورقة بن نوفل ؟ فقال : ( قد رأيته فرأيت عليه ثياب بياض أبصرته في بطنان الجنة وعليه السندس ) وسئل عن زيد بن عمرو بن نفيل ؟ فقال : ( يبعث يوم القيامة أمة وحده ) وسئل عن أبي طالب ؟ فقال : ( أخرجته من غمرة من جهنم إلى ضحضاح منها ) وسئل عن خديجة لأنها ماتت قبل الفرائض وأحكام القرآن ؟ فقال : ( أبصرتها على نهر في الجنة في بيت من قصب لا صخب فيه ولا نصب
Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Waraqah bin Naufal. Maka beliau bersabda, “Sungguh aku telah melihatnya. Aku melihatnya mengenakan pakaian putih; dia berada di antara dua bagian dalam surga dan dia memakai kain sutra tipis.” Beliau ditanya tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Maka beliau bersabda, “Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.” Beliau ditanya tentang Abu Thalib. Maka beliau bersabda, “Aku mengeluarkannya dari kesengsaraan Jahannam menuju bagian yang lebih ringan darinya.” Beliau ditanya tentang Khadijah, sebab dia meninggal sebelum turun ayat tentang hukum-hukum dan kewajiban dalam Alquran dan dijadikan sumber keputusan. Maka beliau bersabda, “Aku melihatnya berada di sungai di surga, di sebuah rumah yang terbuat dari benang emas dan perak. Tak ada hiruk-pikuk di sana, tidak pula keletihan.” (Hadits hasan; lihat Shahih As-Sirah An-Nabawiyyah, 1:94)
Sebuah syair menjadi curahan jiwa Zaid bin ‘Amr bin Nufail:
Apakah Rabb yang Esa ataukah seribu tuhan
Yang ‘kan kusembah ketika engkau membagi-bagi jatah?
Kutinggalkan Lata dan ‘Uzza seluruhnya
Demikianlah yang dilakukan si orang yang amat sabar
Maka bukanlah ‘Uzza yang kusembah, tidak juga kedua putrinya
Tak pula dua berhala Bani ‘Amr yang ‘kan kuziarahi
Bukan pula Ghanam yang ‘kan kusembah padahal dia adalah rabb kita saat ini,
Karena akalku masih waras
Aku heran
Pada malam-malam terdapat perkara yang mengagumkan
Begitu pula siang hari,
Orang yang berakal pasti tahu
Bahwa sungguh Allah benar-benar membinasakan banyak orang
Itulah nasib manusia fajir
Dan tersisalah golongan lain, yaitu para pelaku kebajikan
Anak kecil tumbuh sehat
Seseorang yang pingsan dan sadar kembali,
Suatu hari ia menjelaskan kepada kita
Sebagaimana tingginya ranting pohon yang subur
Akan tetapi aku menyembah Ar-Rahman Rabb-ku
Agar Rabb-ku yang Maha Pengampun berkenan mengampuni dosaku
Maka takwa kepada Allah Rabb kalian,
Jagalah ketakwaan itu
Bilamana kalian menjaganya, kalian tak ‘kan binasa
Engkau melihat orang-orang yang berbuat kebajikan
Negeri mereka adalah taman-taman surga
Dan bagi orang-orang kafir tungku api yang menyala
Serta kehinaan hidup,
Adapun bila mereka mati,
Mereka berjumpa dengan sesuatu yang menyempitkan dada. (Lihat As-Sirah An-Nabawiyyah, 1:162)
Wallahu a’lam.
Maraji’:
  • Al- Mu’jam Al-Wasith, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Mustadrak, Muhammad bin ‘Abdullah Al-Hakim An-Naisaburi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Hadza Al-Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Ya Muhib, Syekh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, Darul Hadits, Kairo.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring Edisi III, Pusat Bahasa.
  • Shahih As-Sirah An-Nabawiyyah, Syekh Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Maktabah Asy-Syamilah
  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.
  • ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, Badaruddin Al-‘Aini, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Penulis: Athirah Ummu Asiyah
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel Muslimah.Or.Id

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: