Wanita Muslimah : Tanya: Ada wanita yg ragu dengan darah yang keluar, haid ataukah istihadhah. Kemudian dia konsultasi ke dokter terkait, dengan membawa sampel darah dan dideteksi dengan USG. Bagaimana hukum …



Tanya:
Ada wanita yg ragu dengan darah yang keluar, haid ataukah istihadhah. Kemudian dia konsultasi ke dokter terkait, dengan membawa sampel darah dan dideteksi dengan USG. Bagaimana hukum semacam ini? Apakah kesimpulan dokter bisa digunakan untuk acuan menentukan haid?
Jawab:
Bismillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ، وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا
Kami tidak menganggap kudrah dan shufrah — setelah suci — sebagai bagian dari haid.” (HR. Abu Daud, no. 307; Ad-Darimi dalam Sunan-nya, no. 900; dinilai shahih oleh Al-Albani)
Kemudian dari Abu Alqamah dari Ibunya yang merupakan mantan budak Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,
كَانَ النِّسِاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ بِالدِّرَجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ، فِيهِ الصُفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ، يَسْأَلْنَهَا عَنِ الصَّلاَةِ. فَتَقُولُ لَهُنَّ: لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ. تُرِيدُ بِذلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ
Para wanita mendatangi Aisyah dengan membawa baskom berisi kapas yang ada shufrah-nya yang merupakan lanjutan dari haid. Mereka bertanya, apakah sudah boleh shalat. Kemudian Aisyah menjelaskan, ‘Jangan buru-buru, hingga kalian melihat al-qushah al-baidha’.”
Maksud Aisyah radhiyallahu ‘anha: sampai suci haid.
Kata “al-qushah al-baidha’’’ memiliki dua makna:
  1. Cairan bening usai haid, yang ini penanda putusnya darah haid.
  2. Kapas putih, artinya darah haid telah terhenti, sehingga ketika ada kapas yang dimasukkan ke tempat keluarnya haid, akan terlihat masih putih.
Keterangan:
  1. Shufrah adalah cairan kekuningan, kudrah adalah cairan keruh kecoklatan. Kedua cairan ini umumnya keluar setelah haid, baik bersambung atau terputus dengan masa suci.
  2. Berdasarkan haid di atas, shufrah dan kudrah memiliki dua hukum: [a] Jika keluar bersambung dengan haid, terhitung haid; [b] Jika keluar setelah suci haid, tidak dihitung haid.
Shufrah dan kudrah, yang disebutkan dalam hadits di atas, zat dan unsurnya sama. Namun memiliki hukum yang berbeda, berdasarkan perbedaan waktu keluarnya.
  • Jika keluar bersambung dengan haid, terhitung haid.
  • Jika keluar setelah suci haid, tidak terhitung haid.
Ini menunjukkan bahwa pembahasan status darah haid, tidak dikembalikan kepada zat darah itu sendiri, namun kembali kepada hukum syar’i.
Permasalahan ini juga pernah dibahas oleh Dr. Abdul Aziz Ar-Rais, dalam rekaman ceramah panjang beliau tentang ahkam al-haid. Salah satu catatan yang beliau sampaikan,
Sebagian wanita datang ke dokter untuk berkonsultasi masalah haid yang dia hadapi. Kemudian sang dokter mendiagnosa dan menyimpulkan, ‘Ini haid karena keluar dari dalam rahim, atau ini istihadhah karena sumbernya luka di leher rahim, atau jawaban semisalnya.’
Komentar beliau,
وهذا خطأ، فـإنه لا يصح الرجوع الى الطبيب في أمثال هذه المسائل، لأن البحث فيها شرعي لا واقعي
ويوضح ذلك؛ أن الصفرة والكدرة ليست حيضة؛ هي طبيا وواقعيا ليست حيضا، فليست الصفرة والكدرة دما يخرج من قعر رحم المرأة، لكنه مع ذلك يسمى شرعا حيضا
اذا لا يصح في هذه المباحث أن يذهب الى الطبيب، وإنما يرجع معرفة هذه المباحث الى الشرع
فالشرع قد يسمى الدم الذي ليست حيضا كالصفرة والكدرة قد يسميه حيضا، وقد يسمى الاستحاضة حيضا والعكس
فالمراة التي يستمر معها دم الحيض أكثر على خمسة عشر يوما هذا على الصحيح شرعا لا يسمى حيضا وان كان طبيا وواقعيا يسمى حيضا
اذا البحث في هذه المسائل بحث شرعي لا طبيا ولا واقعيا لما تبين ذكره وبيانه
Sikap ini salah. Tidak benar mengembalikan masalah penentuan haid kepada dokter. Karena pembahasan masalah haid adalah pembahasan hukum syariat dan bukan pembahasan realita zatnya.
Penjelasannya, bahwa shufrah dan kudrah bukan darah haid. Secara kedokteran dan unsur zatnya, bukan haid. Karena shufrah dan kudrah, bukan darah yang keluar dari rahim wanita. Meskipun demikian, secara hukum syariat, termasuk haid.
Karena itu, tidak benar jika pembahsan masalah ini dikembalikan kepada dokter. Namun untuk mengetahui pembahasan ini, dikembalikan kepada syariat.
  • Syariat terkadang menyebut darah yang zatnya bukan termasuk darah haid (seperti: shufrah dan kudrah) sebagai darah haid.
  • Terkadang pula menyebut darah yang secara zat termasuk istihadhah sebagai haid, atau sebaliknya.
Karena itu, wanita yang darahnya tetap keluar lebih dari 15 hari, semacam ini secara syariat – menurut pendapat yang kuat – tidak dinamakan haid. Meskipun secara kedokteran dan unsurnya, dinamakan sebagai haid.
Dengan demikian, pembahasan masalah ini adalah pembahasan syar’i, bukan pembahasan kedokteran atau dengan diteliti zatnya, sebagaimana keterangan di atas.
Demikian. Allahu a’lam.
“ Baca Selengkapnya tentang KAOS DAKWAH islami yang sedang trend “


“ Baca Selengkapnya BAJU SYAR’I muslimah islami sedang trend ini “

Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: