Sebagian besar kaum muslimin mungkin tidak asing dengan pembahasan mengenai ‘Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa Agamamu?’ Banyak kajian-kajian keislaman yang selalu membahas masalah ini, karena ketiganya adalah tiga perkara pokok yang akan ditanyakan kepada seorang hamba ketika di alam kubur nanti. Barang siapa yang selamat darinya maka selamatlah dia dari siksa kubur. Namun bila tidak mampu menjawabnya, maka siksa kubur pun menantinya. Termasuk di manakah kita?

Mengetahui Tiga Landasan Pokok

Mengenal Allah, Nabi-Nya, dan agama Islam adalah tiga landasan pokok yang wajib diketahui seorang hamba. Jika seseorang mengetahui tiga hal ini serta melaksanakan segala konsekuensinya maka baginya keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Mengapa ini penting bagi seorang hamba? Sebab seorang hamba ketika di alam kubur akan ditanya, “siapa Rabbmu? siapa nabimu? dan apa agamamu?” Jika dia diberi taufik untuk menjawab tiga perkara di atas maka selamatlah dia dari siksa kubur di mana hal tersebut menjadi indikator keselamatannya di akhirat. Begitu pun sebaliknya, seorang hamba yang tidak bisa menjawab tiga perkara tersebut maka sengsaralah nasibnya di akhirat kelak. Wal-‘iyadzubillah.
Dalam pembahasan ini penulis hanya akan menyampaikan secara global masalah tiga landasan utama tanpa menjelaskannya secara terperinci. Berikut ini penjelasan ketiga landasan tersebut.

Landasan Pertama: Mengenal Allah Sebagai Rabb

Secara bahasa, kata Ar-Rabb bermakna pemelihara. Dari kata Ar-Rabb ini terkandung beberapa makna yang lain semisal Al-Malik (penguasa), Al-Mudabbir (pengatur), Al-Mutasharrif (pengatur)dan Al-Muta’ahhid (pemelihara). Penulis kitab Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad At-Tamimi lebih memilih makna Ar-Rabb sebagai pemelihara. Sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab beliau
ربي الله الذي رباني، وربى جميع العالمين بنعمه
“Rabbku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan nikmat-Nya…”
Kata Ar-Rabb juga bermakna ma’bud (sesembahan). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah: 21)
Mengenai makna Rabb dari ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan:
الخالقُ لهذه الأشياء هو المُسْتَحِقُّ للعبادةِ
“Sang Pencipta segala sesuatu adalah Dzat yang berhak disembah.” Hal ini selaras dengan tujuan diutusnya para Rasul yaitu untuk menyeru kaumnya agar hanya menyembah Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu’” (QS. An-Nahl: 36)
Mengapa penting bagi kita untuk mengenal Allah sebagai Rabb? Seorang hamba harus mengenal Rabbnya yang Maha Suci lagi Maha Tinggi yang diperoleh melalui kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, baik itu berupa keesaan, nama-nama, maupun sifat-sifat-Nya. Dia adalah Rabb dari segala sesuatu dan Penguasanya, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia dan tidak ada Rabb yang berhak diibadahi, melainkan Dia semata. Oleh karena itu kita wajib mengetahuinya agar kita benar-benar bisa mengabdi kepada-Nya dan dengan pengetahuan yang benar.
Adapun mengenal Allah bisa ditempuh dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Dari segi bahasa al-aayah [arab: الأية ] memiliki banyak arti, di antaranya bermakna burhan [arab: برهان ] (keterangan) dan dalil. Ayat Allah sendiri dibagi dua macam:
1. Ayat-ayat syar’iyyah: maksudnya adalah wahyu yang dibawa para rasul, yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Allah ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an)” (QS. Al-Hadid: 9)
Bagaimana wahyu bisa dijadikan dalil tentang keberadaannya Allah subhanahu wa ta’ala? Alasannya karena wahyu yang dibawa para rasul adalah wahyu yang sudah tersusun rapi dan sempurna serta tidak saling berlawanan. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’anul Karim:
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan adanya pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82)
Dengan demikian jelaslah bahwa Al-Qur’anul Karim merupakan dalil tentang adanya Rabb yang Maha Agung.
2. Ayat-ayat kauniyah: yaitu para makhluk, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.

Memahami Tauhid Sebagai Perintah Allah Terbesar

Berkaitan dengan wajibnya seorang hamba mengenal Allah—yakni untuk bisa benar-benar beribadah dengan pemahaman yang benar—maka seorang hamba pun harus mengetahui ibadah apa yang sangat diperintahkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Perkara tersebut adalah tauhid.
Syaikh At-Tamimi, penulis kitab Ushul Tsalatsah, mendefinisikan tauhid sebagai pengesaan Allah dalah hal ibadah. Makna tauhid sendiri secara umum adalah pengesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama serta sifat-sifat Allah. Untuk itu sebagian ulama membagi tauhid menjadi tiga macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Adapun penjelasan masing-masingnya adalah sebagai berikut:
  1. Tauhid rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk, Penguasa dan Pengatur segala urusan alam, Yang memuliakan dan menghinakan, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang menjalankan malam dan siang, serta Yang maha kuasa atas segala sesuatu.
    Dengan demikian, tauhid rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal, yaitu: (1) beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala secara umum, seperti menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain; (2) beriman kepada qadha dan qadar Allah Ta’ala; (3) beriman kepada keesaan Dzat-Nya.
  2. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Seperti, berdo’a, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakkal, bertaubat, dan lain-lain.
    Kemurnian tauhid uluhiyah hanya akan diperoleh dengan mewujudkan dua hal mendasar, yaitu: (1) seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala saja, bukan kepada yang lainnya; (2) dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala.
  3. Tauhid asma’ wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya yang terdapat di Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai dengan meingimani makna-makna dan hukum-hukumnya (konsekuens-konsekuensinya).
    Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma’ wa shifat adalah sebagai berikut: (1) Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah Ta’ala, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak pula menolaknya; (2) tidak boleh melampaui batas dengan menamai dan mensifati Allah Ta’ala di luar nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya; (3) tidak menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan nama dan sifat para makhluk-Nya; (4) tidak boleh (dan tidak memungkinkan) untuk mencari tahu kaifiyah (bagaimananya) dari sifat-sifat Allah tersebut; (5) beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat-Nya.
Keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala tidak akan utuh sehingga berkumpul pada diri-Nya ketiga macam tauhid di atas. Tauhid rububiyah seseorang tidak akan berguna sehingga dia ber-tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah seseorang tidak akan lurus sehingga dia bertauhid asma’ wa shifat. Singkatnya, mengenal Allah Ta’ala saja tidaklah cukup kecuali seseorang tersebut benar-benar beribadah hanya kepada-Nya. Sedangkan beribadah kepada Allah Ta’ala tidak akan terwujud dengan benar tanpa mengenal Allah Ta’ala.
bersambung insyaallah
***
Daftar Pustaka
  • Hushulul Ma’mul Bi Syarhi Tsalatsatil Ushuul, Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusydi, thn. 1430 H.
  • Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid Syaikh At-Tamimi, Al-Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim, thn. 1428 H.
  • Syarh Al-Ushul Tsalatsah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Daarul Imam Ahmad, thn. 1427 H.
  • Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Daar Ats-Tsurayya, thn. 1426 H.
  • Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, Daar Ash-Shuma’i, thn. 1468 H.


Jihan Nur Shadrina

Jihan Nur Shadrina

Blog ini di buat, copas dari beberapa sumber website muslim. Sekaligus saya belajar dan membaca dari hasil copas artikel, agar saya bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diri saya, keluarga dan lingkungan di sekitar, Semoga saya di jadikan WANITA MUSLIMAH yang bermanfaat. Aamiin.

Post A Comment:

0 comments: