Sering kita melihat di sekitar kita orang-orang berkumpul di rumah duka untuk membaca Al Qur’an bersama-sama dengan niat pahalanya dikirim kepada si mayit. Tidak hanya pada hari pertama acara ini diadakan, namun sampai ada peringatan pada hari ke 7, 40, 100, 1000 dan seterusnya. Lalu, apakah bacaan Al Qur’an yang dikirimkan kepada mayit pahalanya akan benar-benar sampai ke mayit?
Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman
وَ أَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
Dan manusia tidaklah memperoleh (pahala) kecuali apa yang telah diusahakannya .” (Qs An Najm: 39)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan mengenai makna ayat ini: “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain, demikian juga dia tidak akan memperoleh pahala kecuali apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya mengambil kesimpulan hukum bahwa bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada mayit pahalnya tidak akan sampai kepada si mayit karena hal itu bukan amal perbuatan mereka sendiri dan bukan pula usaha mereka. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengajarkan hal tersebut kepada umatnya dan tidak pula menganjurkannya, tidak pula membimbing mereka dengan menggunakan dalil yang tegas maupun isyarat, tidak pula hal ini dinukil dari seorang sahabatpun radhiyallahu ‘anhum. Seandainya  mengirim pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit adalah perkara yang baik maka mereka pasti telah mendahului kita dalam perkara ini.”
Adapun hadits Rasulullah shallallahu ‘aliahi wa sallam
إذا مَاتَ الإِنْسَانُ انقَطَعَ عملُه إلا من ثَلَاثٍ : من ولدٍ صالحٍ يدعُوْ له, أو صدقةٍ جاريةٍ من بعدِهِ , أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah pahala amalannya kecuali tiga perkara : anak shalih yang mendoakannya , sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat .” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir juga menjelaskan mengenai hal ini bahwa pada hakikatnya tiga perkara tersebut merupakan bagian dari usaha dan amalan seseorang. Sebagaiamana dalam sebuah hadits (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah yang berasal hasil usahanya, dan sesungguhnya anak keturunan merupakan bagian dari usahanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaa, At Tirmidzi mengatakan derajat hadits ini hasan shahih).
Kemudian untuk sedekah jariyah seperti wakaf dan yang sejenisnya, hal ini merupakan bagian dari peninggalan amalannya (atsar). Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan dampak dari amal yang mereka tinggalkan (atsar).” (Qs. Yaasin: 12)
Demikian pula ilmu yang telah disebarkan oleh seseorang kepada masyarakat, kemudian orang-orang yang setelahnya mengambil pelajaran darinya, hal itu juga termasuk bagian dari usaha dan amal perbuatannya. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih (artinya):
من دعاء إلى هُدَى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً.
“Siapa yang mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka (orang-orang yang mengikuti) sedikitpun.” (HR. Muslim)
Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Saudaraku… sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara baru adalah yang diada-adakan. Seandainya peringatan kematian adalah perkara yang baik, niscaya para sahabat radhiallahu ‘anhum pasti telah mendahului kita dalam hal ini. Seandainya ritual mengirim pahala bacaan Al Qur’an untuk mayit adalah perkara yang dapat mendatangkan manfaat kepada mayit pasti Rasulullah telah mengajarkan hal ini kepada umatnya.
Kita perhatikan, bagaimana para ulama madzhab syafi’i menegaskan tidak akan sampainya pahala bacaan Al Qur’an yang dikirimkan kepada mayit. Karena itu, seandainya mereka mengaku bermadzhab syafi’i tentulah mereka akan mengikuti imam mereka yaitu Imam Asy Syafi’i dalam hal ini.
Wallaahu Ta’ala A’lam
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi:
Abul Fidaa’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Tafsir Al Qur’anul ‘Adhim, Daaru Thoyyibah lin-nasyr wat-tauzii’ (Maktabah Syamilah)


Jihan Nur Shadrina

Jihan Nur Shadrina

Blog ini di buat, copas dari beberapa sumber website muslim. Sekaligus saya belajar dan membaca dari hasil copas artikel, agar saya bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diri saya, keluarga dan lingkungan di sekitar, Semoga saya di jadikan WANITA MUSLIMAH yang bermanfaat. Aamiin.

Post A Comment:

1 comments:

  1. “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah pahala amalannya kecuali tiga perkara : anak shalih yang mendoakannya , sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat .” (HR. Muslim)
    Ibnu Katsir juga menjelaskan mengenai hal ini bahwa pada hakikatnya tiga perkara tersebut merupakan bagian dari usaha dan amalan seseorang. Sebagaiamana dalam sebuah hadits (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah yang berasal hasil usahanya, dan sesungguhnya anak keturunan merupakan bagian dari usahanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaa, At Tirmidzi mengatakan derajat hadits ini hasan shahih).

    ReplyDelete