Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata, adapun istitsna’ dalam iman yaitu jika seseorang berkata, ”Aku mukmin insyaallah”. Maka orang-orang berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada tiga pendapat dalam hal ini, diantara mereka ada yang mewajibkannya, diantara mereka ada yang mengharamkannya, dan di antara mereka ada juga yang memperbolehkannya dilihat dari dua sisinya, dan pendapat ketiga inilah merupakan pendapat yang paling benar dan merupakan pendapat salafush shalih.
Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri rahmihallaah berkata di antara mereka sifat ahlul haq kami sebutkan dari ahlul ilmu, bolehnya mengucapkan insyaallah dalam iman, bukan dalam rangka karena kita ragu, justru kita berlindung kepada Allah dari sifat yang ragu itu, akan tetapi karena khawatir kalau kita menyucikan diri, seakan-akan kita sudah mengamalkan seluruh bagian-bagian iman, seakan-akan kita menyucikan diri bahwa kita sudah sempurna imannya, sudah sempurna menjalankan apa yang diperintahkan Allah dari iman itu. Artinya, ketika kita mengatakan saya mukmin insyaallah, bukan dilihat dari sisi aqidah, bukan dari sisi saya itu ragu kepada Allah. Akan tetapi dari sisi amal, artinya apakah saya sudah mengamalkan seluruh iman ataukah tidak. Apakah saya ini termasuk orang yang berhak mendapatkan hakikat iman atau tidak.
Para ulama dari ahli haq, apabila ditanya apakah engkau beriman, maka dia menjawab aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, rasul-rasul Nya, hari akhir, Surga, Neraka, dan semua hal yang ghaib. Dan ketika mengatakan insyaallah saya mukmin, karena saya tidak tahu apakah saya ini termasuk orang-orang yang betul-betul Allah sebutkan sebagai kaum mukminin yang haqiqi atau tidak.
Imam Al-Ajurri dalam kitab Asy-Syari’ah berkata, inilah jalannya para sahabat, para tabi’in -semoga Allah meridhai mereka, bahwa mengatakan insyaallah dalam amal, bukan perkataan dan pembenaran dengan hati, maksudnya bukannya kita ragu, sebagaimana yang telah dibahas. Akan tetapi, maksudnya adalah yang mengharuskan kita mendapatkan hakikat keimanan dalam artian kita ini sudah benar-benar sempurna, hakiki imannya. Dan apa yang dikatakan oleh imam Al-Ajurri ini adalah madzab salaful ummah adalah madzab para sahabat, madzab para tabi’in, demikian pula para imam-imam setelahnya. Dan demikian pula yang diyakini oleh Imam Asy-Syaifi’i rahimahullah,. dimana beliau menetapkan bolehnya seseorang mengucapkan insyaallah saya mukmin dalam rangka menghindari dari penyucian diri bahwa imannya sudah sempurna.
Abul Baqa’ Al-Futuhi Al-Faqiihi Al-Ushuli Al-Hanbali berkata:
Dan diperbolehkan mengucapkan insyaallah di dalam iman dengan mengatakan saya mukmin insyaallah, dan inilah yang dinyatakan oleh imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan dihikayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhum.
Adapun dalil dari Al-Qu’an dan As-Sunnah yang menunjukkan diperbolehkan mengucapkan insyaallah dalam hal ini adalah:
Dalil Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman
لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
Kamu pasti akan memasuki Masjdilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan beriman”. (QS. Al-Fath: 27)
Dalil As-Sunnah
Perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam Doa Ziarah kubur:
السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاءالله بكم لاحقون
“ Semoga keselamatan menyertai kalian hai para penghuni alam kubur dari kalangan mukminin. Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian. “ (HR. Muslim)
Ini adalah madzab salaf, dan inilah yang diyakini oleh Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal
Sebagaimana Al-Khalal meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal, beliau ditanya oleh seseorang, Ada orang berkata: dikatakan kepada saya apakah engkau beriman? Aku berkata: Ya. Apakah saya berdosa kalau melakukan hal seperti itu? Bukankah manusia itu tidak lepas dari dua yaitu mukmin atau kafir? Kemudian Imam Ahmad pun marah, dan berkata ini adalah pendapat orang murji’ah. Dan orang murji’ah itu mengharamkan kata insyaallah. Kemudian Imam Ahmad membawakan firman Allah Ta’ala, “Siapakah mereka itu? Kemudian Imam Ahmad berkata, bukankah iman itu perkataan dan amalan? Orang itu menjawab: Iya. Imam ahmad berkata: apakah kita sudah melaksanakan perkataan? Iya. Maksudnya perkataan adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian imam Ahamad berkata lagi: apakah kita sudah melaksanakan seluruh amal? Dia menjawab: belum, tidak. Imam ahmad berkata: Bagaimana kamu mencela orang yang mengatakan insyaallah? Maksudnya Imam Ahmad bahwa ketika mengucapkan insyaallah, bukannya kita ragu dengan keimanan kita kepada Allah, tapi artinya kita tidak tahu apakah kita sudah mengamalkan seluruh ajaran islam atau belum.
Dan ini merupakan aqidah Imam Asy-Syafi’i, aqidah Imam Ahmad, aqidah para shahabat, tabi’in sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al-Ajurri.
Wallaahu a’lam.
***
Penyusun: Anita Rahmawati
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maraji’:
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab al Aqiil, Manhaj Imam Syafi’i Fii Itsbaatil Aqiidah, http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=19368. Diakses pada tanggal 21 Januari 2014.
Disertai penjelasan rekaman kajian Ustadz Abu Yahya Badrusalam – hafidzahullah, http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Badrusalam/Manhaj%20Imam%20Asy-Syafi%27i.
Diakses pada tanggal 21 Januari 2014.


Jihan Nur Shadrina

Jihan Nur Shadrina

Blog ini di buat, copas dari beberapa sumber website muslim. Sekaligus saya belajar dan membaca dari hasil copas artikel, agar saya bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diri saya, keluarga dan lingkungan di sekitar, Semoga saya di jadikan WANITA MUSLIMAH yang bermanfaat. Aamiin.

Post A Comment:

0 comments: